7 hal yang harus dihindari ketika membesarkan anak menurut Dr. Ibrahim Elfiky

7 hal yang harus dihindari ketika membesarkan anak menurut Dr. Ibrahim Elfiky
7 hal yang harus dihindari ketika membesarkan anak menurut Dr. Ibrahim Elfiky

Berbicara mengenai anak memang sepertinya tidak ada habisnya, Tentu setiap orang tua memiliki cerita sendiri dalam membesarkan  anak. Dan itulah mengapa pembicaraan tentang parenting atau pengasuhan membuat aku sangat tertarik untuk memahami lebih dalam dari kedua sisi baik anak maupun orang tua, sehingga bisa memaknai dengan benar suka duka yang muncul dalam proses pengasuhan. Selain mengikuti seminar, membaca artikel aku juga suka membaca buku baik tentang parenting atau personal development (pengembangan diri), jujur ini membuat aku bisa berfikir lebih luas mengenai berbagai hal termasuk pola asuh anak.

Salah satu buku favorit aku karya Dr. Ibrahim Elfiky – Personal Power mengatakan bahwa ada 7 hal yang harus dihindari ketika membersarkan anak, seperti :


Tidak mendengarkan

Sebagai orang tua, kita pasti ingin apa yang kita katakana didengarkan oleh anak kita, dalam hal apapun. Kita menganggap bahwa mendengarkan perkataan orang tua adalah sebuah bentuk bakti anak terhadap orang tua.

Padahal kalau boleh jujur pada diri sendiri, sebenarnya hal itu merupakan salah satu dari kepuasaan EGO kita selama ini, ketika anak tidak mendengarkan perkataan kita maka kita cendrung merasa tidak dihargai sebagai orang tua. Padahal  disisi yang lain anak juga memiliki hal yang sama untuk didengarkan pendapatnya. 

Tanamkan dalam diri sendiri bahwa anak bukanlah seorang hamba, mereka juga memiliki hak yang sama untuk didengar berapapun usianya.

Sebagai orang tua kita tentu memiliki pemikiran yang jauh lebih luas sehingga lebih mengerti mana yang lebih baik untuk anak, tapi bukan berarti hal itu menjadikan alasan untuk merampas hal anak untuk berbicara. Mereka juga ingin dimengerti dan didengarkan.

Jangan memaksa mereka untuk mengerti jalan fikiran kita yang sudah berproses puluhan tahun, tapi bagaimana kita memaklumi pola fikir mereka yang belum sampai pada titik kita saat ini.

7 hal yang harus dihindari ketika membesarkan anak menurut Dr. Ibrahim Elfiky

Mengkritik

Coba kita latihan berhitung , berapa kali dalam sehari kita megkritik anak-anak.

Tentang handuk yang ditaruh sembarangan

Tentang mainan yang dibereskan asal-asalan

Tentang tulisan tangannya yang berantakan

Atau apapun ?

Setiap  hari anak-anak dalam proses belajar , baik belajar hal baru, belajar memahami bahkan mungkin belajar membuat kebiasaan baru yang benar.

Dalam proses tersebut tentu akan banyak kesalahan yang dibuat anak, tidak sempurna dalam mengerjakan atau bahkan sering gagal.

Faktanya banyak orang tua diluar sana, termasuk saya sendiri yang terkadang tidak sabaran dalam proses ini. Selalu menuntut anak sempurna dalam melakukan apapun. Tidak segan mengkritik setiap kesalahan yang dia buat.

Pada akhirnya membuat anak-anak merasa enggan melakukan banyak hal karena kita terlalu cerewet. Menurut Dr. Ibrahim Elfiky Ketika anda mengkritik  anak-anak, anda membuat mereka merasa rendah diri,  tak berharga dan tersesat.

Jadi bagaimana seharusnya ? berikan masukan yang baik dengan cara yang baik supaya hasilnya pun baik.

Beritahu perlahan apa yang salah, kemudian berikan mereka arahan bagaimana cara melakukan yang benar. Melelahkan ? memang…  tapi ini lebih baik untuk kita dan untuk anak-anak kita.


Membandingkan

“ Si udin aja bisa dapet 100, masa kamu gak bisa ?”

“ Anak tetangga sebelah perasaan udah bisa baca tulis kamu mah suruh belajar aja susah banget”

“ tuh, asep mah enak udah kerja ditempat bagus setiap bulan bisa kasih orang tuanya uang. Kamu masih gini-ginia aja”

Kita pasti sering ya mendengar istilah perbandingan seperti ini dari orang tua kita, atau orang lain. Jangan-jangan kita juga melakukan hal yang sama kepada anak-anak, membandingkannya dengan orang lain ?.

Sayangnya, kebanyakan orang tua senang memabanding-bandingkan anaknya dengan orang lain , entah itu anggota keluarga yang lain atau orang lain diluar keluarga dan mereka melakukannya dengan cara yang merusak dan membuat anak-anak mereka merasa kurang penting. 

Mereka merasa orang tua mereka melihat orang lain lebih baik daripada mereka. Dan ini menyebabkan anak-anak memiliki self esteem yang rendah dan gambaran mengenai diri sendiri yang kurang unik.

Kalau kamu sering mendengar orang tuamua membandingkanmu dengan orang lain, STOP dikamu. Jangan ulangi kesalahan yang sama pada anak –anak.


Menyalahkan

Usia anak-anak memang dalam fase belajar dan bermain, mereka sedang memahami dan belajar banyak hal. Salah itu biasa, dan seharusnya kita sebagai orang tua bisa memaklumi kesalahan mereka dengan bijak.

Mereka sedang berproses belajar melakukan yang benar, jadi jangan menyalahkan mereka jika mereka salah atau keliru. Karena Ketika orang tua menyalahkan anak-anak karena suatu kesalahan yang terjadi, mereka membuat anak-anak merasa bersalah dan menyebabkan mereka lagi-lagi merasa tidak berharga dan kesepian.


Sarkasme

Secara sadar maupun tidak Orang tua seringkali sarkatik dengan anak-anak mereka mengenai prilaku atau cita-cita mereka. Misalnya, ketika seorang bocah lelaki mengatakan kepada ibunya, 

“ Ma, suatu hari aku akan menjadi seorang dokter”. Ibunya mungkin dengan sarkatis menjawab

“ mimpi, suruh belajar aja susah mau jadi dokter”.

Orang tua terkadang menjadi penghancur mimpi paling ulung dalam kehidupan seorang anak, terkadang secara tidak langsung orang tua membunuh mimpi-mimpi anaknya yang besar karena menganggapnya mustahil.

Padahal mimpi merupakan sebuah penggerak yang bisa merubah hidup, tak masalah meskipun terdengar mustahil bagi kita saat ini. karena kita tidak pernah tau apa yang bisa terjadi dimasa depan. 

Dukung mereka, meskipun kita tidak mengerti atau mungkin tidak sejalan dengan pemikiran kita. Faktanya saat mereka dewasa kehidupan mereka adalah hak mereka, sebagai orang tua kita hanya dimintai pertanggung jawaban apakah sudah memberikan pendidikan yang benar, apakah sudah mengenalkan agama pada mereka.

Jangan bunuh mimpi mereka, karena Sarkasme bisa menyebabkan anak-anak merasa tidak percaya diri, tidak berharga dan kesepian. Sarkasme juga bisa menghancurkan impian-impian mereka.


Mengendalikan

Banyak orang tua berusaha mengendalikan semua aktivitas anak-anak mereka dalam setiap aspek. Anak-anak tidak punya hak memilih atau untuk memutuskan apa saja dalam hhidup mereka. Pengendalian seperti ini menyebabkan anak-anak menjadi kurang mempercayai kemampuan mereka untuk melakukan segala sesuatunya sendiri.

Memang sih sebenarnya hal ini merupakan wujud kasih sayang kita sebagai orang tua kepada anak, sehingga sudah menyiapkan kebutuhan mereka dari A sampai Z.

Tapi seringnya kita menjadi merasa mengendalikan anak dan memaksa anak untuk mengikuti apa yang sudah kita siapkan.

Sisi lain aku yang sejak kecil jauh dari orang tua membuat aku sadar pada setiap pilihan yang aku buat, tidak ada sifat manja. Bahkan aku bebas memilih sekolah mana yang aku inginkan. Dan sekarang aku selalu percaya diri pada setiap pilihan yang aku buat.

Belajar memberikan anak kebebasan untuk memilih supaya mereka juga tidak menjadi orang yang ragu-ragu atau bimbang dimasa depan. 

7 hal yang harus dihindari ketika membesarkan anak menurut Dr. Ibrahim Elfiky


Menggeneralisasi

Kita pasti sering mendengar orang tua mengeneralisasi prilaku anak, misalkan orang tua melihat kita malas cuci piring. Mereka akan mengatakan kita anak yang malas, padahal mungkin kita membantu urusan yang lain seperti cucu baju, menyapu atau mengepel.

Atau anak kita kurang pintar dalam matematika tapi unggul dalam pelajaran computer dan olah raga, orang tua tetap menganggapnya bodoh.

ketika orang tua mengambil satu aspek prilaku anak anak dan mengeneralisasinya, sehingga apapun yang dilakukan sang anak dinodai oleh prilaku buruk itu. 

Menurut Dr. Ibrahim Elfiky Ketika orang tua menggeneralisasi anak-anak kehilangan minat untuk melakukan apapun karena orang tua mereka memandang anak itu sebagai kegagalan total.

Padahal faktanya, setiap anak dianugerahi kemampuan dan kecerdasan masing-masing. Meskipun terlahir dari Rahim yang sama, setiap anak itu tentu memiliki perbedaan. Si kakak mungkin jago dalam pelajaran akademik, sedangkan adiknya malah tidak. Tapi coba lihat sisi lainnya, mungkin si adik jago dalam olahraga atau seni.

Setiap anak juga memiliki kelebihan dan kekurangan, jadi jangan menggeneralisasi kekurangan mereka dan melabeli mereka dengan predikat-predikat seperti  BODOH, PEMALAS, CENGENG, dan sebagainya karena bisa jadi mereka sebenarnya tidak demikian tapi kita yang mensugesti mereka untuk tumbuh menjadi anak yang kita labeli.

Ah, aku sendiri yang menulis tulisan ini bukan berarti sudah bisa menerapkan semua dengan sempurna ke anak. Belajar banyak ilmu parenting dan memahami situasi yang terjadi tidak lantas semua bisa berubah begitu saja. Hal yang paling berat dalam proses belajar ilmu parenting adalah memutuskan mata rantai toxic parenting dari orang tua kita dan menerapkan pola asuh yang baik untuk anak-anak kita. 

Terdengar mudah, tapi fakta dilapangan terkadang kita masih saja kecolongan melakukan pola asuh yang diajarkan orang tua kita dulu. Mengulang kesalahan yang sama kepada anak kita.

Jadi, tidak ada orang tua yang sempurna didunia ini. sama halnya juga dengan anak-anak, mereka pun sama dalam proses belajar.  

Terimakasih sudah membaca postingan ini, salam.


Post a Comment

Previous Post Next Post