Setelah sekian lama enggak pernah nonton drakor lagi, beberapa hari kemarin aku nonton drama korea lagi running 1 judul 2 hari. Ini buat aku lebih baik sih, walaupun tidak bisa dikatakan baik karena 8 jam nonstop didepan TV. Break ketika menyiapkan makan anak dan ketoilet. Dan yang pasti ini dilakukan saat weekend dimana anak-anak tidak punya jadwal sekolah atau les. 

Memang ini bukan contoh yang baik untuk ditiru, tapi sudah lama juga tidak melakukan hal ini. Jadi sesekali wajarlah. Dulu sebelum menikah bahkan aku pernah sehari semalam suntuk nonton drama, break Cuma saat ke toilet. Dan bukan sekali dua kali, terkadang dalam 1 bulan aku bisa menonton  3- 4 judul drama korea dengan 16 episode rata-rata perjudul film. Biasanya dilakuan setiap weekend, karena senin – jumat harus sekolah. 

Dan buat aku pribadi hal yang paling tidak mengenakkan setelah menonton drama korea itu ketika filmnya sudah selesai dan jiwa kita masih tersangkut dalam ceritanya. Jadi pas kembali ke dunia nyata hidup jadi terasa hampa, kosong dan merasa ada yang hilang.

Kalau kalian pernah menonton drama korea terus menerus pasti tau sekali bagaimana rasanya. Karena beberapa hari seolah kita hidup dan menyatu dalam drama tersebut sehingga saat filmnya selesai dan kembali ke dunia nyata kita merasa aneh dalam kehidupan kita sendiri.

Aku yakin diluar sana mungkin banyak juga yang punya hobi yang sama, ada mungkin yang lebih parah atau lebih baik dalam management waktunya. Akan tetapi yang menjadi pertanyaan nonton drama korea itu Hobi atau Pelarian ya ?

Tiba-tiba entah kenapa kemarin aku berfikir seperti ini. Apa kebiasaanku dulu itu sebuah pelarian dan sekarang Cuma sekedar hobi ? menurut kalian apa bedanya ?.



RAT PARK TEORY

Pada tahun 1970, Psikolog asal Canada Bruce K Laexander dan rekannya Simon Fraser melakukan ekperimen yang menggunakan tikus sebagai objeknya. Dimana tikus tersebut ditempatkan secara individual di kandang tertutup dengan disediakan 2 botol air minum. 1 botol berisi air putih dan yang 1 lagi berisi air dengan campuran heroin.

Pada percobaan pertama tikus yang  ditempatkan dalam kandang tersebut cendrung meminum air dengan campuran heroin dan ini berlangsung terus menerus dalam jangka waktu yang lama dan intensitas yang tinggi.  Sehingga menyebabkan tikus tersebut mati akibat overdosis.

Kemudian pada tahap selanjutnya tiks ditempatkan dalam kandang yang didesign seperti taman dengan komunitas tikus didalamnya. Dalam kandang tersebut disediakan juga 2 botol air minum yang berisi air dan air yang mengandung heroi

Hasilnya menunjukkan bahwa tikus yang ditempatkan dalam rat park cendrung sedikit bahkan ada juga yang tidak meminum air bercampur heroin. Dapat disimpulkan perbedaan lingkungan dan relasi sosial sangat berpengaruh pada prilaku dan pilihan tikus.

Meskipun memang tikus berbeda dengan manusia yang memiliki kemampuan berfikir, tapi kebanyakan manusia pun kadang meskipun tau resikonya mereka tetap melakukannya. Bukan karena mereka tidak pernah berfikir, tapi hasrat atau keinginannya lebih kuat mengendalikan fikiran mereka.

Alexander dan Fraser mencoba mencari tahu hubungan relasional antara kesepian dan kecanduan dimana dari eksperimen tersebut dapat disimpulkan bahwa tikus yang ditempatkan dalam kandang secara individual cendrung memilih air dengan campuran heroin akibat efek yang dihasilkan berupa implus pada otak dengan memicu hormone-hormon tertentu yang menghasilkan kebahagiaan, hal ini kemudian menjadi pelarian dari rasa kesepian.

Sama seperti halnya manusia, dalam otak manusia ada program otomatis dimana kita cendrung menghindari hal-hal yang kurang menyenangkan dan mendekati hal-hal yang dianggap menyenangkan. Kesepian adalah salah satu faktor penyebab seseorang merasa kecanduan.

Bisa jadi kita merasa sepi dengan kehidupan kita saat ini, atau merasa tidak puas dengan hidup atau orang-orang disekitar kita sehingga menoton drama korea terkadang menjadi pelarian terbaik. Berjam-jam didepan TV atau menatap layar handphone membuat kita lupa dengan masalah dan keadaan disekeliling.

Pertanyaanya kemudian, apakah menonton drama korea itu hobi atau kecanduan ?.

Jawabannya ada pada diri kita masing-masing,

  • Apakah kita memiliki hubungan baik dengan orang lain disekeliling kita ? atau kita termasuk orang yang menarik diri ?
  • Apakah kita merasa puas dengan kehidupan yang kita miliki ? atau kita setiap hari mengeluh dengan hal-hal sepele setiap harinya ?
  • Apakah hubungan percintaan kita berjalan lancar dengan pasangan ?
  • Dan yang terakhir, sesering apa kamu menonton drama ? setiap ada film kesukaan ? setiap hari ? setiap ada waktu luang ? atau memang menonton film tak pernah ada batasan.

Kamu tentu lebih tau kamu termasuk golongan yang mana, kalau kamu menggunakan drama korea sebagai pelarian sebaiknya. Cobalah perbaiki perlahan kehidupanmu didunia nyata, karena dunia film memang terkadang menawarkan fantasi yang membuat kita terlena. Tapi sering kali kita lupa bahwa sebenarnya kita tidak pernah hidup didalamnya.  Dunia kita adalah kenyataan yang pahitnya terkadang kita hindari karena merasa sakit, padahal didrama korea pun kita bahkan menangis karena pedih.

Jadi untuk tak perlu takut untuk menghadapi duniamu sendiri.